Photography For Fun

Dikutip dari email sharing Mbak Marrysa Tunjung Sari di milis Fotodroids

Salam!


Hanya sekedar tulisan seorang pengamat biasa dan mungkin bisa menjadi bahan
diskusi tentang apa yang akan saya utarakan.


Menyelami fotografi kini menjadi penuh warna, aneka komunitas penggemar foto
dengan berbagai alat penyampainya sangat menarik. Jika dulu terbagi menjadi
fotografer komersial dan hobi lalu kemudian menjadi lebih spesifik, hobi
foto jenis genre tertentu. Saya kira ini hanya sampai disini lalu datang
kemudian perkembangan yang cukup menarik, photographer for fun dan
photographer serius.


Yang menarik dari photographer for fun, mereka cenderung tidak begitu ingin
diberi stempel photographer. Padahal jika kita menilik pada arti
fotografer/photographer adalah mereka yang mengambil foto/photograph.

Kemudian dibagi menjadi dua, photographer professional dan photographer
amateur. Salah paham selama ini saya perhatikan pada penggunaan kata
professional, ada beberapa berpikir bahwa photographer professional ini
adalah mereka yang ³jago². Padahal arti ini memberikan penekanan kepada
mereka yang bekerja menghasilkan uang dari pekerjaan memotretnya sedangkan
yang amateur adalah mereka yang memotret hanya untuk keperluan dokumentasi
kegiatan dan kesenangan semata.


Buat saya personal ketika memperkenalkan diri kepada umum, saya agak
kebingungan dan sedikit tandeng aling. Permasalahannya adalah memperkenalkan
diri sebagai photographer professional, dimana saya mencari nafkah saya
dalam kegiatan photography. Tapi kok ya gak enak ketika memperkenalkan diri
ke orang ya? Saya Sasha. Pekerjaan saya professional fotografer (ketika
ditanya). Lalu lawan bicara saya berkata,²kamu pasti sudah jago banget ya!²
hahahahahaĊ ..Jago itu sebuah kata yang sangat abstrak bagi saya. Bagaimana
kita mengukur jago?


Lalu kembali kepada photographer for fun, apa sih yang sangat menarik buat
saya sampai saya menuliskan tulisan ini untuk dibaca oleh kalian semua?
Karena saya ³membaca² sebuah gerakan yang juga membuat saya sedikit gundah
gulana karena gerakan ini justru kemudian (semoga tidak) akan menimbullkan
suatu diskusi yang terkadang mandek karena sifat ketimuran kita yang enggan
dicap ³jago² atau malah ingin ³jago² tapi referensinya salah. Ini yang
repot.


Photographer For Fun


Dalam kegiatan foto snap and shot dan segala editing aplikasi dalam ponsel
menjadikan istagram dan beberapa aplikasi yang menyediakan jejaring social
plus ini, saya melihat begitu banyak potensi yang menganggumkan. Mereka yang
tadinya duduk depan computer dan mungkin tidak bergerak kini mulai dan sudah
ketagihan untuk bergerak dan mengabadikan segala sesuatu yang dijumpai di
jalan. Semua menjadi photographer dalam arti sesungguhnya. Lalu kata ³Ah ini
kan for fun², lalu mereka memotret dan memotret lagi. Tidak terasa gallery
koleksi foto mereka sudah mencapai ribuan foto. Apakah ini sudah di
kategorikan ³for fun² dalam alam sadarnya?


Ketika hobi sudah mendarah daging dan membuat dirinya menjadi gelisah karena
satu hari tidak memotret tentu saja ini tanda yang sangat positif bagi kita.
Bahwa ada sesuatu dalam hidup yang dinanti setiap hari dan itu menjadi
melegakan ketika kalian sudah melakukannya. Ini dinamakan guilty pleasure!
HeheheĊ .


Tapi apa jalan berikutnya ketika level ketagihan sudah mulai ada di darah
kalian? Pengetahuan. Apakah harus? Tidak harus dan tidak mestiĊ .tapi tanpa
kalian sadari, foto-foto itu bukan lagi ³fun² dalam arti yang bebas dan
tidak terikat. Mata kalian tiap hari menyaksikan pembelajaran/pengetahuan
dengan angle, komposisi, warna, bentuk, ruang dari foto-foto yang
ditampilkan oleh para photographer for fun lainnya. Sehingga timbul
peningkatan yang tanpa disadari hadir dalam gallery foto kita. Itu yang di
kelas saya sebutkan sebagai referensi. Jangan sampai kita membatasi diri
kita akan ³pengetahuan² ini karena kita sudah mengingatkan diri kita sebagai
Photographer for fun.


Disadari atau tidak disadari kalian sudah menjadi photographer. Mau itu
professional atau amateur. Siapa tau foto yang kalian abadikan menjadi
sesuatu yang dibutuhkan oleh pihak lain? Karena dalam foto ada elemen yang
dinamakan momen, dalam teknis fotografi kalau disambung-sambungkan itu
dinamakan Time value/TV (canon, pentax dll) dan Speed/S (Nikon, Olympus
dll). Time itu bagian dari kecepatan kamera bekerja tergantung cahaya. Dalam
sepersekian detik itu, momen kita bekukan/freeze dalam karya foto yang
kalian tampilkan di gallery kalian.  Momen ini hanya dimiliki oleh
masing-masing individu, ketika ini terjadi, hanya kalian yang memiliki momen
itu.


Kesimpulan dari tulisan ini hanya ini berbagi semangat, kita tidak tahu apa
yang akan ada didepan kita semua. Momen itu yang kita punya, jadi ketika
kita menaruh lebel photographer for fun, jadikan itu sebagai fun dalam arti
yang sesungguhnya. Kita ³belajar² dengan penuh suasana yang ³fun². Jangan
sampai membatasi diri dengan definisi yang kita tau sendiri, cari definisi
itu dengan beberapa cara. Bukan bermaksud untuk menyalahkan definisi yang
kita mengerti namun untuk memahami perspektif lain tentang pengetahuan.

Karena saya pun lahir dari kata itu ³photographer for fun² menjadi
photographer professional. Bukan karena saya lebih ³jago² dari yang lain,
tapi saya membuat dapur saya mengepul dari kegiatan berfotografi.

Tidak peduli itu perempuan atau laki-laki, karena kita berdua mempunyai
indra (bukan mas Indra). Entah itu mereka yang tidak memiliki indra
penglihatan (buta) atau pun kehilangan indra lainnya. Percayalah, dikelas
saya pernah dihadiri oleh komunitas fotografer buta. Dan semangat mereka
lebih kurang sama dengan semangat kita semua yang masih memiliki indra
penglihatan dengan baik


Selamat berkarya teman-teman!

No comments:

Post a Comment